PERAN ORANGTUA DALAM MERAWAT FITRAH SEKSUAL ANAK USIA 0-7 TAHUN
👉🏽Apa itu Fitrah seksualitas?
Fitrah seksualitas adalah tentang bagaimana seseorang berfikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai lelaki sejati atau perempuan sejati.
☘ Fitrah peran ayah
- Penanggung jawab pendidikan
- Man of vision & mission
-Sang ego& individualitas
-Supllier maskulinitas
-Penegak Profesionalisme
-Konsultan pendidikan
-The person of tega
☘Fitrah Peran Ibu
-Pelaksana harian pendidikan
-Person of Love& Sincerity
-Sang harmony& Sinergy
-Supplier feminitas
-Pembangun hati& rasa
-Berbasis pengorbanan
-Sang pembasuh luka
👉🏽 Mengapa Fitrah seksualitas itu penting dirawat sejak dini?
🌻Untuk menjaga keselamatan, kehormatan dan kesucian anak-anak kita dari hal-hal yang tidak diinginkan. Contohnya Pornografi, LGBT, Fedofilia,hilangnya identitas fitrah seksualitasnya. Dan peran orang tua sangat penting sebagai orang terdekat dan yang dipercaya memegang amanah langsung dari sang Pencipta.
💫 Fitrah seksualitas pada anak 0-2 thn:
- Fase oral. Sentuhan membuat nyaman dan memberi kenikmatan.
-Banyak belajar melalui indra pendengaran & perasaannya. Pada fase ini anak laki-laki ataupun perempuan harus dekat dengan Ibunya karena masa menyusui.
Peran orang tua pada masa👆🏼:
- Memberi nama yang baik untuk anak.
-Menyusui secara langsung , menatapnya ketika menyusui, menyentuhnya, dan menyusui dengan posisi yang nyaman.
- Membiasakan menutup aurat anak. Khususnya saat mandi, ganti popok, ganti baju hendaknya orangtua menghindari melakukannya di tempat terbuka & tidak dihadapan oranglain.
-saat menyusui, hendaknya hanya bayi yang melihat payudara ibu.Jika berada di luar bisa dilakukan di nursing room.
💫Fitrah seksualitas pada 3-6 tahun.
-Fase Phalic, yaitu di saat itu anak sering melihat dan memegang kemaluannya sendiri. Namun bukan karena orientasi seksual.
- Bisa mengenal bagian tubuhnya, dan oranglain melalui permainan.
-Banyak bertanya dari mana asal bayi.
Pada mada ibi anak perempuan ataupun laki-laki harus dekat dengan ayah ibunya agar memiliki keseimbangan rasional dan emosional.
👫Peran oarngtua pada masa itu👆🏼:
1.Ajarkan anatomi tubuh. termasuk 4 daerah pribadi yang tak boleh disentuh, dan sentuhan yang boleh disentuh tanda sayang.
2. Ajarkan bersuci dan toilet training.
3. Ajarkan dan latih untuk berani berkata TIDAK untuk sentuhan yang tidak boleh di sentuh, membuat anak tidak nyaman dan lebih baik menghindar.
-Memberikan teladan pembagian peran di rumah antara ayah dan ibu.
- Mengenalkan rasa malu
-Mengenalkan batas aurat laki-laki dan perempuan.
-Melatih tidur sendiri.
-Menjaga hubungan suami istri di depan anak- anak.
- Bijak mengenalkan gadget pada untuk menghindari pornograpi dan hal- hal negatif lainnya.
MATERI PERTANYAAN :
1. Dalam Fitrah Peran Ayah terdapat poin Ego & Individualis, profesional dan penegak tega
Bisa tolong dijelaskan masing2 poin maksudnya apa beserta contohnya?
(Untuk poin profesional) karena kita saat ini pun berada di Ibu Profesional bukan Bapak Profesional🤭
JAWAB :
1. Ego: Ego adalah aspek psikologis dari kepribadian yang timbul karena kebutuhan manusia untuk berhubungan secara baik dengan dunia kenyataan. ego dapat membedakan sesuatu yang hanya ada di batin dan sesuatu yang ada di luar dunia objektif (nyata). Oleh krn itu Ayah cenderung berfikir logis.
2. Individual:
Jika dianalogikan, otak laki-laki itu seperti ruangan arsip besar dengan kotak-kotak yang tersusun rapi. Diberi label. Ada kotak mobil. Ada kotak rumah. Ada kotak tabungan. Ada kotak sepakbola. Ada kotak pekerjaan. Semua hal ada kotaknya. Jika mereka sedang memikirkan soal touring motor, mereka akan membuka kotak touring motor, sibuk dengan isinya tanpa menyentuh kotak lainnya. Begitu cara mereka berpikir, fokus dan tersekat pada kotak mereka. Mereka tidak bisa dan tidak suka jika harus membuka lebih dari satu kotak pada satu waktu yang sama. Kalau dipaksa, kotak-kotak mereka akan berantakan, dan mereka akan malas merapikannya lagi. Kalau sudah terlampau kacau, lemot deh jadinya karena mereka akan sulit menemukan kotak yang diinginkan nantinya.
Uniknya, ada satu kotak yang istimewa di kepala semua laki-laki. Kenapa istimewa? Karena tidak ada isinya. Namanya Nothing Box, Kotak Kosong. Ini adalah kotak favorit mereka. Tempat pelarian jika sedang runyam. Inilah yang menyebabkan laki-laki bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk tidak melakukan apa-apa, dan ajaibnya tetap hidup, bahkan cenderung menikmatinya. Seperti merokok dan minum kopi, doang. Memancing, tanpa mendapatkan ikan. Main game, yang sudah tamat diulang. Tidur-tidur ayam, sampai seharian. Atau apapun lah bentuk kegiatan sia-sia lainnya.
Inilah yg membuat para laki2/ayah lbh suka individual
3. Penegak profesionalisme
bagai mana pun kondisinya tidak memntingkan ego sendiri jika anak atau salah satu anggota keluarga salah ya salah bukan tidak ada toleransi tpi dengan seperti itu mereka akan patuh terhadap peraturan apapun.
contoh jika anak atau salahsatu anggota keluarga salah, ya salah. tidak ada toleransi.
4. The person of tega
Tidak ada rasa iba/ mengenyampingkan perasaan mengedepankan logika.ketika keputusan sudah paten harus diambil meski itu bertentangan dengan batinnya.
PERTANYAAN 2:
Bagaimana jika peran ayah dan peran ibu tertukar, misal ayah yg lebih feminim dan ibu yg lebih maskulin?
Apakah konsep kedekatan anak pd tahap usianya harus berubah?
Misal 11-14 thn kan anak perempuan harus dekat dengan ayah, kalau ayahnya lebih feminim (dalam artian peran bukan melambai) apakah harus ditukar jd dekat dgn ibunya?
Apakah konsep kedekatan anak pd tahap usianya harus berubah?
Misal 11-14 thn kan anak perempuan harus dekat dengan ayah, kalau ayahnya lebih feminim (dalam artian peran bukan melambai) apakah harus ditukar jd dekat dgn ibunya?
JAWAB :
Konsep kdekatan anak pada usia 11- 14 tahun menurut kami tidak perlu dirubah.
Idealnya laki-laki mensuplai maskulin 75%, feminim 25 % dan sebaliknya Ibu mensuplai 75% feminim, 25% maskulin.
Dari kami solusinya tuk masalah tersebut , dekatkan anak dengan sosok maskulin lainnya dari keluarga. contoh: paman, kakek tuk melengkapi suplai maskulinnya.
Lalu sang Ayah , berdasarkan penuturan Ustad Harry Santosa sewaktu seminar ,
hendaknya Sang Ayah punya guru/ pendamping/ coach untuk mensuplai fitrah seksualnya jika dirasa masih kurang, pun begitu sang ibu dekatkan dengan yang feminim banget. karena lingkungan iru juga bisa mempengaruhi sehingga suplai fitrah bisa imbang setidaknya mendekati.
